DAFT PUNK | Random Access Memories | Columbia/Sony Music Indonesia

Di saat musik elektronik makin berisik soundnya (thanks to dubstep) dan makin mengandalkan komputer. Duo robot asal Perancis ini malah membuat musik 70’an dan 80’an, Yap album studio keempat mereka “Random Access Memories” menawarkan kembali “the glory era of disco music”. Untuk mewujudkan hal tersebut kolaborator yang dibawakan tidak main-main. Mulai dari pionir disco Giorgio Moroder, raja gitar disco Nile Rodgers, songwriter kawakan Paul Williams, pianis Chilly Gonzalez, Pharrell Williams, DJ Falcon, Todd Edwards sampai musisi indie macam Panda Bear dan juga Julian Casablancas. Wajar jika album ini menjadi buah bibir dan mendapat banyak sekali rekor penjualan karena pengisi album yang begitu mantap di bidangnya dan isinya yang bisa didengarkan oleh berbagai macam jenis usia membuat album ini juga menjadi “The Most Anticipated Album in 2013”.

Unsur soft rock, disco, funk, r&b bahkan sampai jazz pun mereka masukkan di album keempat mereka, tidak ada sound elektronik yang menggebu-gebu layaknya “Human After All”, atau electro kontemporer macam “Discovery”, atau “Homework”. Disini hanya ada Daft Punk, The Collaborator, juga instrumen musik biasa dan hanya mengandalkan sedikit tabuhan drum machine.

Mereka menghidupkan unsur disco yang sesungguhnya di track pembuka “Give Life Back To Music”, track hasil kolaborasi dengan sang raja gitar dari era disko yaitu Nile Rodgers dan Paul Jackson, Jr. yang notabene menjadi salah satu gitaris pengisi album “Thriller” dari sang raja pop. Petikan gitar yang funky ditambah betotan bas yang begitu menggoda membuat kita seolah bergoyang bersama teman-teman kita dari masa lalu, vokal robotik Daft Punk membuat lagu ini terkesan vintage dan stylish. Sedikit cuilan crowd party pun menambah kesan dance lagu ini. Robot ini pun bisa mellow juga di lagu “The Game of Love”, lagu yang bercerita tentang patah hati ini dieksekusi dengan mantap oleh mereka. Suara robotik berpadu dengan musik yang sedikit menyentuh soft-pop menjadi pengiring lagu. Seolah kita mendengar lagu melankolia ala The Bee Gees, ABBA atau band 80’an lainnya.

Sebuah lagu yang menceritakan tentang master synthpop Giorgio Moroder tertuang di track “Giorgio By Moroder”. Mendengar track ini seolah kita masuk ke dalam dunia Giorgio terutama monolog awal Giorgio yang benar-benar menceritakan awal mula dia terjun di dunia musik lalu berlanjut dengan musik disko yang sangat khas dan sedikit mengingatkan kita akan era awal dari Donna Summer, potongan jazz juga sedikit muncul di lagu ini. Sebelum masuk ke babak berikutnya di lagu ini akan ada satu quote yang sangat menarik yang diungkapkan Giorgio di lagu ini yang mengandung makna tidak ada batasan untuk membuat musik, once you free your mind you can be able to do anything. Babak berikutnya di lagu ini bertempo cepat dan juga mengandung riff gitar yang maut, sedikit scratch dari vinyl, dan juga permainan drum yang intens membuat lagu biografi dari Giorgio ini terasa lengkap dan bisa dikatakan genius. Berduat dengan pianis Chilly Gonzalez di “Within'”, kali ini mereka mengeksplor sisi jazz mereka. Kembali mellow mereka di lagu ini dengan reff yang akan mengingatkan kita akan lagu pop 80’an. Unsur string juga menjadi pemanis dari lagu downtempo ini. Unsur new wave juga turut dimasukkan di lagu “Instant Crush” kali ini dia berduet dengan pentolan The Strokes yaitu Julian Casablancas. Track yang mid-tempo ini mengedepankan unsur lirih di vokal Casablancas dan sedikit mengingatkan akan beberapa karya solo dari Casablancas. Unsur unik dari lagu ini adalah sound synth yang sangat 80’an dimana era-era synthpop dan new wave lagi tumbuh berkembang.

¬† “Lose Yourself to Dance”, merupakan sensasi dance, soul dan funk yang disatukan dalam satu lagu. Lagu yang sangat ceria dan sarat dengan nuansa “sunshine” dan “summer” seolah menegaskan kembali apa arti album ini. Pharrell Williams disini seolah-olah adalah penyanyi funk era 70’an dan lagi-lagi riff groovy Nile Rodgers membuat suasana lagu ini menjadi dance dan ceria. Makna “lose yourself” ini makin menjadi-jadi mengikuti lagu apalagi dengan tambahan vokal dari Daft Punk yang menyuruh kita untuk melepaskan semua masalah dan langsung menuju ke lantai dansa untuk bergoyang. Pada “Touch” yang berkolaborasi dengan Paul Williams ini bisa dikatakan mengeksplor sisi eksperimentalis mereka karena mereka mencampurkan berbagai macam genre seperti synthpop, ballad, r&b, latin pop, electropop sampai ambient. Unsur orkestra di lagu ini menjadi salah satu unsur penguat dan ada terselip rasa The Avalanches era album “Since I Left You”.¬† Di “Get Lucky” mereka terus membuat para pendengarnya berdecak kagum sambil berdansa, permainan di verse awal begitu memukau sehingga memancing pendengar untuk terus mendengar lagu ini sampai selesai. Bagian chorus yang terus mengulang bait “We’re up all night to get lucky” sungguh adiktif¬† ditambah dengan suasana musik yang begitu groovy. Unsur funk dan disco yang diinjeksikan ke lagu ini entah mengapa begitu sempurna dan jauh dari unsur jadul atau norak, rata-rata lagu yang ingin kembali menghidupkan unsur disco malah di endingnya akan terkesan gagal atau out of date tapi duo DJ ini bisa menghindari hal tersebut dengan menambah unsur yang mereka ciptakan sendiri dengan bantuan master disco yaitu Nile Rodgers dan pembuat musik beraroma romansa yaitu Pharrel Williams.

daft punk

Kembali ballad di lagu “Beyond”, lagu yang ditulis oleh Paul Williams ini dibuka dengan unsur orkestra yang megah sebelum masuk ke bagian jazz fusion yang lembut dan syahdu. Nuansa folky mereka injeksikan dalam lagu “Motherboard”. Lagu yang bisa dikatakan semi akustik ini mengandalkan percussion, flute, sound drum yang minimalis dan petikan gitar akustik yang soft. Ada juga bagian dimana tiba-tiba mereka bermain mengawang dan mengambang sebelum musiknya menjadi light kembali. Sound trip hop pun juga mereka masukkan dalam porsi yang sedikit. Kolaborasi mereka dengan Todd Edwards tertuang dalam “Fragments of Time”, vocal Todd yang sangat poppish berpadu dengan musik r&b ala Daft Punk. Permainan gitar ala funk dan juga soul pun tidak dapat dielakkan lagi, riff gitar yang cukup catchy dan jazzy membuat lagu ini menjadi easy listening.

Track yang sangat electro-indie bisa kita dengarkan di “Doin’ It Right” yang berkolaborasi dengan Panda Bear yang notabene juga menjadi anggota Animal Collective. Lagu yang bisa dikatakan berpegangan pada genre chill out dan vokal echo dari Panda Bear menjadi satu-satunya track yang sepenuhnya electronic. Eksekusi lagu ini pun cukup baik dan menghadirkan kolaborasi yang bisa dikatakan unik dan crossover. Track penutup yang berkolaborasi dengan DJ Falcon “Contact” dibuka dengan permainan keyboard yang sangat disco seperti keyboard KC & The Sunshine Band “Give It Up”. Lagu pun berjalan slow sebelum dihajar dengan permainan yang cepat layaknya sebuah jamming studio sebelum masuk ke unsur noise yang begitu menggebu-gebu.

Berdansa, ya itulah kata yang bisa saya ungkapkan begitu saya mendengar album ini dari awal sampai akhir. Di album baru ini Daft Punk sangat paradoks, di saat artis elektronik lain mencari beat-beat di dalam komputer mereka malah tidak mau memakai komputer dalam pembuatan album ini, semuanya dikerjakan serba manual dan analog sehingga membuat sound album ini murni dan bersih. Pada saat musisi elektro lainnya mencoba terdengar wah dengan biusan musik futuristik, mereka malah memutar mesin waktu dan kembali ke diskotik era 70’an dan 80’an lalu kembali ke masa sekarang dan menerapkannya dalam album baru mereka. Orang-orang juga mengharapkan karya terbaru Daft Punk dengan suara yang begitu elektronik dan futuristik namun mereka malah menawarkan alunan musik yang biasanya diputar dalam rekaman piringan hitam.

Daft Punk yang menjadi pelopor musik electro yang stylish di zaman sekarang via 2 album awalnya kembali lagi menjadi pelopor dalam mengembangkan musik yang terkesan jadul menjadi sesuatu yang vintage dan juga stylish di jaman sekarang. Album “Random Access Memory” bisa menyatukan genre yang dicintai hampir semua pendengar mulai dari pop, r&b, disco, easy listening, jazz fusion, funk, soft rock bahkan sampai prog-pop sekalipun. Jadi wajar bila album ini mendapat review yang sangat positif dari berbagai kalangan karena permainan paradoks ala Daft Punk ini bisa dikatakan sukses dan berhasil, tanpa kesan “terpaksa” vintage, natural, tidak out of date dan juga mampu membius berbagai kalangan. Impian mereka di album ini adalah membuat musik kembali didengarkan oleh semua orang, baik tua maupun muda dan tampaknya mimpi mereka berhasil terwujud di album ini. This is the best disco album of the decade. (Luthfi-Ashel)

Daft Punk – Get Lucky (Official Audio) ft. Pharrell Williams