PHOENIX | Bankrupt! | Warner Music Indonesia

Phoenix – Entertainment

Band asal Perancis yang merupakan teman dekat dari Daft Punk ini memang sudah melewati banyak sekali momen yang menyenangkan semenjak album keempat mereka yang bertajuk “Wolfgang Amadeus Phoenix” dirilis. Terbukti segudang pujian dari media, atensi yang sangat positif dari khalayak ramai sampai ke klimaksnya yaitu menjadi artis Perancis pertama yang menyabet penghargaan Grammy Awards untuk bidang Alternative pada tahun 2010. Tapi untuk album berikutnya mereka tidak mau membuat “Wolfgang Amadeus Phoenix” part II malah mereka nekat untuk menjauh dari kesan pop yang ditawarkan di album keempatnya dan mencoba lebih bereksperimental dengan melepas berbagai instrumen akustik dan beralih menuju instrumen musik elektronik di album kelima mereka yang bertitel “Bankrupt!”.


“Entertainment” pun membuka album kelima dari band asal Perancis ini. Gebukan drum yang menghentak di awal dengan nuansa musik tradisional Jepang yang membuat track ini unik dan terdengar sedikit oriental. Memang ada sedikit kemiripan dengan “Princess of China” milik Coldplay namun disini Phoenix menawarkan perbedaan terutama di bagian chorus yang begitu antemik sambil menyentil kehidupan “entertainment” era sekarang. Pada “The Real Thing”, mereka mengadopsi beat “Depeche Mode – People are People” dengan raungan synth yang begitu kuat. Unsur synthpop 80’s yang edgy juga begitu terasa di lagu ini namun mereka bisa menerapkannya dengan skema musik sekarang sehingga track ini mempunyai kesan modern nan vintage. Unsur art rock muncul di “S.O.S. in Bel Air”, dengan bunyi dengungan mengawali lagu ini disambut dengan vokal Mars yang diset ber-echo tinggi dan tempo lagu yang naik turun menjadi unsur unik di lagu ini. Di lagu ini mereka menyentil kehidupan di dunia hiburan yang begitu instan seperti tersirat di bait kedua mereka yaitu “When tired you’re no fun/when idols are boredom to everyone”.

Phoenix – Trying To Be Cool

Atmosfer seksi bisa didapat di “Trying to Be Cool”. Permainan synth dan keyboard lagi-lagi mendominasi lagu ini dengan medium beat dan hand-clapping makin menambah kesan seronok untuk lagu ini. “Bankrupt!” menjadi higlight sendiri di album ini. Kita akan dibawa ke tiga bagian di lagu ini. Bagian pertama, buaian string dipadu dengan musik ambient dan minimalis. Kedua, mereka seperti membuat score untuk film sci-fi yang begitu atmosferik dan juga mengawang. Dan yang terakhir adalah sesi mellow dari lagu ini dimana Mars bernyanyi begitu sendu dengan diiringi gitar akustik dan musik ala triphop. Eksperimentalis bisa menjadi satu kata yang tepat untuk menggambarkan lagu ini. “Drakkar Noir”, adalah track yang sangat Phoenix. Mengulang kembali formula yang mereka terapkan di “The Real Thing” namun dengan lebih banyak instrumen gitar dan drum. Beat modern R&B muncul di “Chloroform”. Kali ini memang mereka sedikit bermain di R&B namun tetap dengan gaya eksperimental mereka. Buaian flute dengan beat yang downtempo membuat ending yang syahdu untuk lagu ini. “Don’t” sedikit mencuil Arcade Fire. Track ini bisa dikatakan cukup berani terutama di bagian reff karna mereka memainkan beat yang eksperimen, bunyi drum machine yang terus menghentak, noise yang terus menghajar kuping pendengar dan vokal Mars yang shoegazing. Awal lagu ini sedikit mengingatkan kita akan track Phoenix sebelumnya yaitu “Lisztomania”. “Bourgeois” terdengar seperti Daft Punk pada awal lagu namun unsur itu dihentikan begitu vokal Mars sudah terdengar dan tempo lagu langsung turun. Akan sedikit terdengar unsur a-Ha di lagu ini. Dan penutup album ini adalah sebuah track yang riang dengan judul “Oblique City”. Unsur upbeat dari new wave pun dipraktekkan disini. Track ini seperti memanggil kembali a-Ha, Duran Duran, Depeche Mode, Tears for Fears, OMD dan Ultravox dalam satu paket.
“Bankrupt!” sendiri mempunyai tema yang bisa dikatakan menjadi benang merah album ini meski album ini bukanlah sebuah concept album yaitu tentang materialisme. Album kelima dari kuartet asal Versailles ini sungguh akan sangat berbeda dari album Phoenix sebelumnya. Banyaknya unsur synth, raungan noise dan berbagai macam sound yang menggelegar membuat pendengar yang sudah terbiasa akan buaian indie pop yang mereka selalu tawarkan di setiap album mereka akan kaget begitu mendengar isi dari “Bankrupt!” ini. Jika mereka sebelumnya hanya sedikit mengadopsi new wave dan synthpop kali ini mereka hampir memasukkan itu di berbagai macam lini. Terdengar juga sedikit unsur ambient di album ini. Bisa dikatakan album ini memang 180 derajat dari album yang sukses melambungkan namanya yaitu “Wolfgang Amadeus Phoenix”, di album ini mereka jauh lebih ekletik, elektronik dan eksperimental tapi entah mengapa mereka tidak terkesan terlalu jauh dari pakem musik mereka di album ini. Phoenix sendiri berhasil keluar dari comfort zone mereka dengan membuat album ini. Album ini meski terdengar akan sedikit aneh namun dibalik semua itu ada unsur keunikan dari segi sound, danceable, dan faktor vokal Mars yang sangat “france” sehingga album ini masih bisa dinikmati oleh siapapun yang ingin melihat sisi elektrik dan eksperimentalis dari Phoenix dan penantian selama 4 tahun untuk mendengar kembali karya band ini bisa dikatakan tidak sia-sia dan berhasil membuat kagum. (Luthfi-Ashel)