THE JOY FORMIDABLE | Wolf’s Law | Atlantic/Warner Music Indonesia

The Joy Formidable – This Ladder Is Ours

Wales kembali lagi menghadirkan bakat emas di bidang rock. Setelah negara yang menjadi wilayah Britannia Raya ini melempar Manic Street Preachers, Super Furry Animals, Future of The Left dan Kids In Glass Houses ke panggung rock dunia kali ini mereka melempar The Joy Formidable yang siap kembali menunjukkan jiwa rock mereka di album keduanya.
Trio pengusung prog rock/noise rock/indie rock yang mempunyai personil Rhiannon “Ritzy” Bryan (lead vocals, guitar), Rhydian Dafydd (bass, backing vocals), dan Matthew James Thomas (drums, percussion) sudah mengeluarkan debut album yang berjudul “The Big Roar” pada tahun 2011 yang mendapat atensi yang positif dari berbagai macam media yang menyatakan bahwa album debut mereka bisa menjadi senjata andalan mereka untuk bisa menguasai berbagai macam festival rock karena mempunyai musik yang keras tapi dengan lirik yang atmosferik dan juga vokal yang renyah dan cute. 2 tahun berselang kini pada tahun 2013 mereka siap memborbardir para pecinta rock dengan amunisi terbaru mereka yang berjudul “The Wolf’s Law” yang sudah duduk di posisi 51 dalam jajaran US Billboard 200.


“This Ladder Is Ours” didaulat menjadi pembuka album. Lagu alt-rock yang disusupi aroma garage ini mengingatkan akan “Whirring” namun dibuat dengan lebih smooth tanpa mengurangi nyali rock. “Cholla” mempunyai sensasi prog rock dengan suara Ritzy yang spacy. Tabuhan drum dan sedikit bunyi synth cukup membuat track ini menarik. “Tendons” adalah track rock yang mempunyai kesan dreamy di tengah lagu sebelum kembali dipukul dengan raungan gitar dan musik yang sedikit melipir ke arah shoegaze. Mereka sedikit menunjukkan skill groovy mereka di lagu “Little Blimp”. Lagu ini bisa dikatakan tidak sekencang track awal mereka, namun via track ini mereka bisa memanaskan konser mereka menjadi lebih liar karna unsur lagu yang bisa membakar semangat penonton. Track yang mengandung unsur keraguan mereka tuangkan di lagu “Bats”, hal ini tertuang dalam bait terakhir lagu mereka “I’ve got a voice but the question keeps holding me back/I’ve got a voice but the mess is drowning us out/I’ve got a choice but the choices are getting weaker/I had a reason but the reason went away”. Track ini pun dikemas dengan suasana heavy metal lengkap dengan vokal Ritzy yang begitu bising seolah lagu ini mengusik jati diri seseorang. Setelah 5 track mereka mengedepankan unsur noise dari riff gitar dan gebukan drum yang cepat di “Silent Treatment” mereka bermain di ranah akustik. Tema lagu yang mellow dan juga vokal Ritzy yang empuk membuat track ini sedikit bernuansa dream pop. Di paruh kedua album, mereka mulai menceritakan tentang alam. Petikan mandolin membuka “Maw Maw Song”, track ini mempunyai opening yang bernuansa orkestra sebelum digeber dengan suasana prog rock yang begitu kencang dan kembali lagi bernuansa orkestra membuat tempo lagu sedikit naik turun. Lagu yang berdurasi 6 menit ini menawarkan keepikan tersendiri dengan lagu yang bertema kehidupan di alam liar. Lagu ini seolah mengajak kita kembali ke kemegahan progressive rock yang tumbuh di era 70’an dengan temanya yang mistis dan natural. Jika Arcade Fire bisa bermain lebih louder maka hasilnya adalah “Forest Serenade”. Lagu ini seolah mengajak kita kembali berpetualang ke alam, lagi-lagi suasana orkestra mereka tampilkan sehingga track ini terdengar megah dan bombastis. Kali ini range vokal Ritzy makin melebar dan menunjukkan vokal tingginya di akhir lagu. Track yang terinspirasi oleh aktivis Wangari Maathai, “The Leopard and the Lung” masih bermain di ranah prog rock namun sedikit bernuansa lebih mellow meski tidak mengurangi bobot noise dari lagu. “The Hurdle” mereka bermain di sisi indie rock yang berenergi dan tidak terlalu berisik. “The Hurdle” sendiri menceritakan tentang rusaknya alam yang memang sedang terjadi sekarang dengan penyampaian lirik yang menyentuh dan suasana musik yang pas dengan tema. “The Turnaround” menggabukan unsur orkestra dengan shoegaze yang membuat track ini bisa dikatakan klasikal namun tidak menghilangkan warna loud dan dreamy. Sebuah penutup yang manis dan great. Hidden tracknya yaitu “Wolf’s Law” menjadi penyambung “The Turnaround” sehingga bisa dikatakan bukan hanya menjadi sekedar hidden track tapi merupakan sebuah paduan yang sangat padu sehingga unsur klasikalnya terus dijaga sampai lagu ini benar-benar selesai.
Di album kedua mereka, mereka mencoba untuk lebih serius dalam hal lirik. Album pun dibagi menjadi 2 bagian dimana bagian pertama berisi tentang cinta dan kehidupan sedangkan di bagian kedua berisi tentang alam, isu sosial dan lingkungan hidup membuat album ini jauh lebih berbobot secara lirikal ketimbang album debut mereka. Di bagian musik juga mereka mampu melebihi apa yang mereka buat di album debut mereka. Jika di album pertama mereka menawarkan musik noise yang masih bisa dicerna penggemar alternative dengan iringan lirik dan musik yang menggebu-gebu tapi di album kedua mereka menawarkan musik yang kembali keras namun ditambah dengan nuansa orkestra dan juga tema lirik yang begitu dalam sehingga tidak terkesan repetitif dan prestise.
Yap, The Joy Formidable sepertinya sudah siap untuk kembali menaklukkan panggung dunia dengan lagunya yang bernuansa prog rock with arena rock based sound. Album kedua dari mereka membuktikan bahwa sindrom album kedua tidak mempunyai pengaruh bagi mereka karena mereka moving forward untuk mencapai pendengar yang lebih banyak dan menjadi headliners di panggung rock terkemuka di dunia. After “The Big Roar” they will shock the stage with their law. Yeah, it’s a “Wolf’s Law”. (Luthfi-Ashel)

The Joy Formidable – Cholla