Tingkatkan Minat Berwirausaha dengan Semar Berdasi

Tingkatkan Minat Berwirausaha dengan Semar Berdasi
Oleh: Nur Cholis, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Nurfadli Mursyid dari komik Tahilalats (menggunakan topi) dan Jasmin dari Komik Gak Jelas (Tengah), sedang memberikan materi industri kreatif. (foto: Rifqi Cantona)
Himpunan Mahasswa Teknik Pertanian menyelenggarakan Seminar Kreatif Bersama Pemuda Indonesia (Semar Berdasi), pada Sabtu (6/5) di Auditorium Pasca Sarjana Fikom Unpad. Tema yang diangkat pada seminar yang ketujuh ini adalah “Heroes of Living: Lead Changes Through Groundbreaking Ideas”. Seminar yang dihadiri 150 peserta ini mengundang dua pembuat komik terkenal, Jasmine H. Sukartty dari Komik Gak Jelas dan Nurfadli Mursyid dari Tahilalats.
Menurut ketua pelaksana, Meisya Athaya, kegiatan ini sengaja untuk mengangkat tema jiwa wirausaha, terutama di bidang industri kreatif. Melihat peluang begitu pesar pula, industri bidang desain dan gambar pun tak mau kalah. Apalagi, di era pasar ASEAN seperti saat ini, berbagai komoditas bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.
“Industri kreatif, terutama desain, sekarang sudah mulai berkembang. Apalagi dunia komik. Makanya kami angkat tema ini,” ujar Meisya saat ditemui selepas acara.
Selain itu, Semar Berdasi juga bertujuan guna mengangkat minat pemuda, khususnya mahasiswa bagi mengangkat perekonomian Indonesia. Meskipun bukan berasal dari jurusan desain, tapi kreativitas gambar atau desain komik bisa dilakukan oleh siapapun. Tergantung cara mengolah idenya, sesuai dengan tema yang diangkat.
Sedangkan menurut Nurfadli Musyid, membuat komik sebuah hal yang menyenangkan. Meskipun berawal dari jurusan teknik sipil, ia tetap menciptakan komik dengan mensketsa wajah dosen. Bahkan, kini komik hasil pria lulusan salah satu kampus di Makassar tersebut, sudah tersebar luas di webtoon, komik digital yang terkenal. Berkat komik Tahilalats yang dirintis sejak 2 tahun lalu, penghasilan yang diraih kini mencapai 15 juta rupiah perbulan.
Meskipun begitu, Fadli, sapaan Nurfadli Mursyid, mengaku tidak direstui oleh orang tuanya membuat komik. Karena harus menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Namun, sekarang ia berhasil meyakinkan orang tuanya dan lulus dari bangku perkuliahan.
“Buku gue isinya gambar komik semua,” ujar pria berumur 25 tahun tersebut.
Menurut pria yang hobi menggunakan kopi tersebut, industri desain dan komik di Indonesia masih terbuka lebar. Apalagi, ditambah dengan banyaknya platform, anak muda bisa memanfaatkannya untuk menjadi ladang bisnis dan relasi. Lewat ide dan kreativitas yang menarik, desain pun akan dilirik oleh banyak orang.
Untuk mengembangkan industri kreatif, menurut Fadli, dibutuhkan tim untuk mengembangkan karya. Tim ini berfungsi agar mendapat sudut pandang baru dari berbagai orang. Sehingga, bisa berbagi satu sama lain. Selain itu, keuntungan pun bisa dibagi-bagi dan bisa mempekerjakan orang lain.
“Menentukan segmentasi itu penting agar pasar kita jelas. Tambah juga relasi (networking) agar karya kita bisa dilihat dan dipromosi banyak orang,” tambah pria lulusan D3 itu.
Acara ini juga dihibur dengan Komunitas Musik Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) dan Standup Comedy FTIP. Meisya berharap, latar belakang mahasiswa apapun bisa dijadikan ide dalam membangun industri kreatif. Ditambah dukungan dari pemerintah dan pihak kampus, mahasiswa bisa menggali peluang yang ada.